WELCOME TO MOMMY'S TRIPLE BLOG

MENJADI ABDI NEGARA DAN MENJADI SEORANG IBU MEMBUAT HIDUPKU SEMAKIN BERWARNA. PENGALAMAN BERTUGAS DI PROTOKOL SEKALIGUS MENJADI IBU DARI ANAK KEMBAR TIGA MEMBUAT HARI DEMI HARI DALAM HIDUP INI SEAKAN BEGITU BERARTI UNTUK DILUPAKAN.



MUDAH-MUDAHAN BLOG INI MAMPU MENJADI TEMPAT UNTUK BERBAGI IDE BAGI PARA SAHABAT ATAUPUN SEKEDAR SHARING PENGALAMAN BAIK DI BIDANG KEPROTOKOLAN MAUPUN DALAM PERJUANGAN UNTUK MEWUJUDKAN MIMPI MENJADI SEORANG IBU.



Selasa, 30 Juni 2009

Bedah Rumah Di Dusun Pucang, Kubu



Seorang pemimpin harus memiliki rasa kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggi terhadap kondisi masyarakat yang ia pimpin. Dan hal ini telah ditunjukkan oleh kepemimpinan Bp Mangku Pastika Gubernur Bali dan Bp I Wayan Geredeg Bupati Karangasem.

Berkat komunikasi yang telah terjalin dengan baik antara pemerintah kabupaten, propinsi dan pengusaha swasta maupun BUMD akhirnya pada hari Minggu, 28 Juni, di dusun Pucang, Desa Ban, Kecamatan Kubu telah dicanangkan program bedah rumah, dengan sasaran 47 rumah tidak layak huni.

Acara Pencanangan tersebut langsung dihadiri oleh Gubernur Bali beserta ibu, Ketua Yayasan Bina Kasih Insani selaku sponsor pada kegiatan bedah rumah ini dan tentu saja Bupati Karangasem beserta ibu ikut hadir mendampingi.

Dalam sambutannya Gubernur Bali berharap, kedepannya nanti kegiatan-kegiatan sosial kerjasama dengan pihak swasta harus ditingkatkan sebagai salah satu bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility)

Ada sesuatu hal yang sangat berbeda telah kita temukan pada saat acara tersebut berlangsung, dimana partisipasi masyarakat begitu besar menyambut program bedah rumah tsb. Padahal masyarakat Pucang terkenal agak apatis dengan program-program pemerintah.

Dari anak-anak sampai orang tua rela datang jauh-jauh mendaki medan yang cukup sulit dijangkau hanya karena ingin menyaksikan acara tersebut. Malah gubernur sedikit berkomentar ketika melihat seorang nenek yg ikut hadir pada acara itu,, duduk manis di depan sibuk sendiri dengan snack dan makan siang yang dibagikan oleh panitia. Setiap suap yang masuk dimulutnya terasa begitu nikmat dirasakan. Mungkin saja nenek renta itu,, baru kali ini merasakan makanan yang berbeda dari yang biasanya ia makan.

Disinilah kita harus membuka mata dan hati kita,,, bahwa masih banyak masyarakat di luar sana yang terbelenggu oleh lingkaran setan kemiskinan. Masyarakat yang bahkan hingga akhir usianya belum pernah merasakan kenikmatan dunia, sandang, pangan maupun papan.

Senin, 22 Juni 2009

Go To Palembang. Yuk...k...!!!




Akhirnya pernah juga aq menginjakkan kaki di Kota Empek - empek. Kebetulan ada Undangan dari Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan agar Pemkab Karangasem ikut berpartisipasi pada Acara Festival Sriwijaya dan Sriwijaya Expo 2009.

Bersama dengan rombongan Disperindag dan hadir pula Ibu Bupati dan Ibu Sekda sebagai peninjau pada kegiatan tersebut. Berangkat Senin pagi buta dari Amlapura akhirnya tiba di Palembang ketika menjelang magrib, karena rombongan harus transit dulu di Soekarno Hatta.

Festival Sriwijaya ke-18 dan Sriwijaya Expo 2009 secara resmi dibuka oleh Gubernur Sumatera Selatan Bp H Alex Noerdin pada Hari Selasa, 16 Juni 2009 di KOmpleks Dekranasda Jakabaring Palembang. Kegiatan ini akan berlangsung selama 7 hari dan akan ditutup pada tanggal 23 Juni 2009.

Sriwijaya Expo diikuti oleh 135 stand baik lokal maupun luar kota. Selain mempromosikan produk lokal hadir juga peserta dari Propinsi Sumatera Barat, Bengkulu, Pangkal Pinang, Yogyakarta, Jawa Timur,DKI Jakarta dan Bali. Kabupaten Karangasem merupakan satu-satunya Kabupaten yang mewakili Bali dalam event tersebut.

Menurut Kadisperindag Kab. Karangasem "Ibu Puspa Kumari" ketertarikan mengikuti event ini, karena ingin memperkenalkan berbagai produk kerajinan lokal buatan Karangasem kepada masyarakat Palembang. Karena selama ini Kab. Karangasem lebih sering untuk mengikuti expo yang diadakan di Jakarta.

Stand Kab. Karangasem cukup mendapat perhatian dari pengunjung. Berbagai kerajinan ditampilkan pada acara tersebut seperti kerajinan ate, bokor kau, tenunan, ukiran kayu, makanan ringan khas karangasem seperti kripik nangka, kripik salak, manisan salak hingga ke dodol salak.

Ibu Bupati dan Ibu Sekda yang ikut menjadi Peninjau pada acara tersebut juga ikut turun ke lapangan dan tak segan memberikan masukan mulai dari desain stand bahkan ikut turun tangan merayu pembeli agar berbelanja di Stand Karangasem.

Kamis, 21 Mei 2009

PEMBINAAN LOMBA MARS DAN HYMNE KABUPATEN KARANGASEM


Bagian Humas Protokol Setda Kab. Karangasem sebentar lagi akan mengadakan hajatan tahunan. In our planning Jumat tanggal 12 Juni nanti kita akan mengadakan Lomba Mars dan Hymne Kabupaten Karangasem yang akan diikuti oleh 8 (delapan) SMA mewakili kecamatan se-Kabupaten Karangasem. Lomba kali ini akan memperebutkan Piala Tetap Bupati Karangasem untuk Kategori Paduan Suara Terbaik dan hadiah berupa uang tunai senilai Rp 2 juta untuk Juara I, untuk pemenang II sebesar Rp 1,5 juta dan Rp 1 juta untuk juara III. Panitia juga akan memberikan Penghargaan untuk Dirigen Berpenampilan Tebaik (Best Performance).

Sebagai stimulan, Panitia telah memberikan uang pembinaan sebesar Rp 1 juta rupiah kepada sekolah peserta lomba. Selain itu pada saat pelaksanaan lomba juga akan diserahkan bantuan uang saku kepada peserta lomba, walaupun hanya Rp 20.000 per orang tapi bagi anak SMA jumlah itu lebih dari uang saku harian mereka.

Lomba Mars dan Hymne Kabupaten Karangasem kali ini adalah lomba untuk yang kedua kalinya. Lomba seperti ini mulai diadakan tahun lalu, dan diikuti oleh para guru yang mewakili masing-masing kecamatan. Tujuan diadakannya lomba ini adalah untuk mensosialisasikan lagu Mars dan Hymne Kab. Karangasem kepada seluruh masyarakat Karangasem sebagai salah satu cara untuk menumbuhkan rasa cinta dan rasa memiliki terhadap tanah kelahirannya. Melalui Sosialisasi Mars dan Hymne ini diharapkan generasi muda dari Gumi Lahar ini tidak akan terbenam oleh stigma bahwa Karangasem adalah kabupaten miskin dan tertinggal. Tapi justru sebaliknya bahwa Kab. Karangasem ibarat Mutiara yang terpendam, penuh dengan nilai-nilai sejarah dan budaya adiluhur yang patut kita banggakan.

Panitia dimana Kasubag Protokol sebagai Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan Sosialisasi Mars dan Hymne Kab. Karangasem dan Tim Pembina yang terdiri Bp Ketut Sadiana (Pencipta Lagu Mars dan Hymne Kab. Karangasem), Bp Ketut Bawa dan Kadek Budi selama kurang lebih dua bulan telah melakukan Pembinaan ke masing-masing sekolah peserta lomba. Sekolah yang akan mengikuti lomba antara lain: SMAN 1 Karangasem, SMAN 1 Bebandem, SMAN 1 Kubu, SMKN 1 Abang, SMAN 1 Manggis, SMAN 1 Sidemen, SMAN 1 Selat dan SMAN 1 Sidemen.

Pembinaan sebelum pelaksanaan lomba dimaksudkan untuk menyamakan persepsi antara sekolah yang sudah belajar secara autodidak melalui DVD dan VCD yang kita bagikan ketika rapat awal, dengan Tim Pembina yang memang profesional dan tahu benar tentang lagu ini. Sehingga pada saat pelaksanaan Lomba, kesalahan-kesalahan dalam menyanyikan Mars dan Hymne Kabupaten Karangasem akan dapat diminimalkan.

Sejauh ini dari hasil pembinaan, kesiapan sekolah untuk mengikuti lomba sudah mencapai 80%. Tidak disangka-sangka ternyata antusiasme para siswa untuk mengikuti lomba ini sangat besar. Siswa berlatih dengan rajin dan bersemangat,,, sampai–sampai ada yang tertangkap mata panitia ketika mereka tampil terlihat sedikit over PD. Tapi itu bukanlah masalah, Semangat itu yang Utama, Enak atau Tidak Enak dipandang mata itu urusan belakangan. He,,,,,

Seminggu sebelum pelaksanaan lomba Panitia akan mengadakan Technical Meeting, untuk memantapkan jelang pelaksanaan lomba. Panitia mencoba untuk mendesain lomba Mars dan Hymne Kabupaten Karangasem tahun ini menjadi semenarik mungkin. Kita akan mengundang Jun BRTV sebagai bintang tamu dalam lomba nanti. Dan untuk menyemarakkan lomba, Panitia bekerjasama dengan PT Telkomsel Grapari Denpasar akan mengadakan Doorprize untuk para Undangan yang hadir saat itu.

Panitia berharap dan berusaha untuk Menyukseskan Lomba Mars dan Hymne Kabupaten Karangasem ini menjadi The Competition of The Year on 2009. He,,,, he..........just wait and see. We invite you to come and see it more…. Please come and join with us :)

Senin, 09 Maret 2009

Suara Hati Se-orang Purna Praja


Ada apa dengan IPDN???
Sepertinya purna praja tak akan pernah berhenti mengelus dada melihat ulah adik2 di Lembah Manglayang. Hampir setiap tahun ada saja berita yang memojokkan kampus kita tercinta. Entah itu kasus kekerasan bahkan pelecehan seksual.
Apa yang salah dengan kampus ini? Sebagai seorang alumni, terasa sulit untuk mengurai benang kusut ini. Sangat disayangkan, kalau kampus tak berdosa ini mendapat caci maki dr orang2 yang tak mengerti dengan kondisi yang terjadi didalamnya. Siapa sebenarnya yg harus dipersalahkan untuk kelalaian dan permasalahan yang terjadi di Kampus ini.
Pertama : Tinjau kembali Proses Penerimaan Calon Praja IPDN
Jangan Utamakan Kuantitas,,, tapi perhatikanlah KUALITAS. Selama ini jumlah praja yang diterima di IPDN bahkan bisa mencapai 1000 orang untuk seluruh Indonesia, dengan alasan permintaan daerah. I think it doesn't wise reason. Lebih baik yang diterima hanya 100 orang, tp ke-100 orang tersebut adalah orang-orang yang cerdas secara intelektual dan emosional, yang nantinya akan menjadi kader-kader pemimpin yang berilmu dan beriman di daerah.

Kedua : Tinjau kembali kurikulum pendidikan, pelatihan dan pengasuhan. Pendidikan harus diisi dengan ilmu2 yang Up to date. IPDN harus bekerjasama dengan UI, UNPAD ataupun UGM untuk dapat memperluas wawasan.
Untuk pengasuhan : minimal 1 barak harus diawasi oleh 1 orang pengasuh. Dan pengasuh itu harus tinggal bersama praja

Ketiga : Lakukan kembali fit and proper test pada Dosen dan Tenaga Pengasuh di IPDN. Bagaimanapun mereka adalah rule model bagi para siswa disana. Menurut penulis tenaga pengajar dan pengasuh di IPDN banyak yang harus diperbaharui.
Pengasuh memiliki peran yang menentukan bagi pembentukan karakter praja. Menurut kacamata penulis,,,banyak pengasuh IPDN yang kurang layak untuk dijadikan rule model, baik dari kecerdasan intelektual maupun emotionalnya.

Pengalaman pengulis selama mengikuti pendidikan kedinasan di SMA TN, meskipun pengasuh berasal dr militer tapi mereka mampu menempatkan diri sebagai seorang senior, sahabat bahkan mampu menggantikan sosok seorang ibu. Pengasuh putri khusunya dipilih dari para KOWAD/POLWAN terbaik dr kesatuan mereka masing2.


Sudah sepatutnya setiap orang yang telah mendapatkan kesempatan menuntut ilmu di Lembah Manglayang, tahu dan sadar untuk selalu berterimakasih pada setiap kemudahan dan fasilitas yang telah diberikan oleh Pihak Sekolah. Ingatlah bahwa kita adalah Anak-Anak Negara, anak-anak yang beruntung karena telah dibiayai oleh Pemerintah dari pajak yang dibayarkan oleh seluruh rakyat Indonesia dari Sabang Sampai Merauke. Rakyat Indonesia tidak pernah mengharapkan Ucapan Terimakasih dari Mulut Kita Sendiri,,, tapi mereka hanya mengharapkan bahwa Anak-anak Negara ini nantinya akan menjadi Pemimpin-Pemimpin Masa Depan yang akan Berbakti bagi Masyarakat, Bangsa, Negara dan Dunia.

Jadi sudah sepatutnya kita sebagai anak negara untuk Sadar Diri........

Senin, 02 Maret 2009

Penerimaan PKL Mahasiswa Sekolah Tinggi Statistik


Meski udara terasa panas dan tidak bersahabat akan tetapi acara penerimaan Praktek Kerja Lapangan Angkatan ke 4 Sekolah Tinggi Statistik di Kabupaten Karangasem tetap berlangsung dengan meriah. Peserta PKL diterima oleh Wakil Bupati di Obyek Wisata Taman Soekasada Udjoeng. Pada acara pembukaan tersebut, Kepala BPS Pusat Dr Rusman Heriawan secara langsung menyerahkan peserta PKL yang berjumlah 310 orang yang terdiri dari 290 siswa dan didampingi oleh 42 tenaga pengajar. Rencananya setelah acara pembukaan mereka akan langsung disebar pada 8 kecamatan di Kabupaten Karangasem dan akan ditempatkan di rumah-rumah penduduk.

Praktek Kerja Lapangan ini akan berlangsung selama 11 hari mulai tanggal 2-13 Maret 2008. Menurut Kepala BPS Karangasem Ir. AAA. Suarningsih (3-3-09), untuk melakukan uji terhadap variabel yag digunakan Pemkab Karangasem bekerjasama dengam Badan Pusat Statistik (BPS) pusat kini bakal meneliti peta kemiskinan Karangasem berikut 14 variabel melalui Program Penelitin Sosial Ekonomi Praktek Kerja Lapangan. Program tersebut merupakan alokasi BPS pusat guna mengetahui lebih jauh spesifikasi dan strata kemiskinan masyarakat Kabupaten Karangasem yang dinilai memiliki kekhasan tersendiri diatara Kabupaten di Indonesia.

Hal ini dinilainya merupakan kesempatan baik karena mahasiswa akan mengkaji relevansi variabel yang digunakan mengukur kemiskinan, dan jika mungkin dapat menyempurnakannya. Sebelumnya metode penelitian menggunakan pola scoring dimana RTM yang memiliki score 0,2 kebawah tidak dikatakan miskin, tetapi sekarang dengan metode proximin test digunakan untuk menentukan kondisi suatu rumah tangga masuk katagori rumah tangga miskin pada level mana. Kemiskian itu menurut Suarningsih, sifatnya relatif bahkan di negara maju pun kemiskinan masih ada, jadi kemiskinan tidak dapat dihapus, tetapi kalau berkurang dan diturunkan masih memungkinkan..

Senin, 23 Februari 2009

KKM DIBEKUKAN ???





Buyar sudah impian masyarakat Karangasem, hidup enak sambil menunggu saatnya ”Play” tiba. Jumat kelabu bagi ratusan ribu nasabah KKM. Bagaimana tidak,,, secara tiba-tiba tim pemeriksa dari POLDA BALI didampingi POLRES Karangasem menggerebek KKM dan langsung mengamankan pengurusnya. Tanpa menunggu waktu lama, saat itu juga operasional KKM langsung dibekukan, dan aset-aset KKM langsung diamankan pihak Kepolisian. Padahal saat itu antrean calon nasabah masih antusias ingin menginvestasikan uangnya di KKM.

Pertanyaannya adalah ”Kenapa KKM dibekukan?”. Padahal belum pernah ada pengaduan dari nasabahnya. Secara kasat mata kinerja KKM saat ini dapat dikatakan sedang berada pada masa jayanya. Mengingat katanya nanti pada tanggal 25 Pebruari akan dibuka Trading Center, yaitu pusat perbelanjaan terbesar dan terlengkap di Karangasem. Apakah dibekukannya operasional KKM terkait dengan penyelahgunaan ijin usaha atau apakah karena unsur politis saja ???

Menyedihkan memang melihat kondisi ini, dan seperti tanpa dikomando, masyarakat langsung turun ke jalan untuk meminta kejelasan mengenai apa yang terjadi. Siapa sebenarnya yang harus mereka tuntut, agar uang mereka bisa kembali. Apakah pengurus KKM ? Tidak juga,,, mereka tidak membawa kabur uang nasabah. Apakah auditor? Ngak mungkin donk. Mereka hanya orang yang menjalankan perintah dari atasan atas pengaduan dari lembaga / seseorang atau sekelompok orang yang mengatas namakan masyarakat Karangasem yang resah dengan keberadaan KKM? Jadi siapa donk dalangnya ???

Yang jelas saat ini kita tidak perlu mencari kambing hitam untuk dipersalahkan. Jika tidak ada yang bertindak dan bertanggungjawab,, tidak menutup kemungkinan aksi anarkisme akan mengganggu keamanan dan stabilitas di Karangasem. Bisakah kita bayangkan Multiplier Bad Effect akibat penutupan KKM?

Pertama : tentu saja hal ini akan menimbulkan gejolak sosial. Karangasem tidak aman lagi, dan hal ini akan mempengaruhi kondisi perekonomian regional khususnya dari sektor pariwisata. Orang asing akan berfikir ulang utk berlibur ke Karangasem dalam waktu dekat ini.

Kedua : tingkat stres, munculnya sikap apatis masyarakat terhadap pemerintah, bahkan yang harus diwaspadai adalah kemungkinan meningkatnya kasus bunuh diri di Karangasem. Why .......??? Bayangkan mereka yang menginvestasikan uangnya di KKM bukan hanya masyarakat yang berkantong tebal saja, tapi juga masyarakat tidak mampu yang hanya ingin merasakan nikmatnya mendapatkan uang tanpa harus terlalu keras membanting tulangnya. Fenomena diperdesaan, banyak masyarakat yang menjual ternak,, lalu uangnya diinvestasikan di KKM, dengan harapan 3 bln kemudian akan mendapatkan keuntungan. Tidak hanya itu, bahkan banyak yang menjual perhiasan satu2 nya karena ingin merasakan nikmatnya uang panas.

Salahkan mereka masyarakat kecil yang terlalu banyak bermimpi? Tidak.... mereka bukanlah orang bodoh,,, mereka bukannya tidak tahu akan resiko menaruh uang di KKM,,, tapi mereka hanya ingin ikut merasakan euforia keuntungan yang ditawarkan di tengah sulitnya kondisi perekonomian.

Ketiga : opini yang berkembang dimasyarakat saat ini adalah bahwa penutupan KKM tidak lebih dari sekedar persaingan Politik untuk Tahun 2010. Jika hal ini memang terjadi,,, memang sangat menyedihkan sekali kedewasaan berpolitik di Indonesia.

According to my opinion : Penutupan KKM sebenarnya murni karena masalah Pelanggaran Hukum semata. Dikatakan bahwa usaha KKM melanggar UU Perbankan, dimana KKM telah melakukan capital investmen padahal ijin yang dikantongi hanyalah ijin koperasi. Penutupan KKM juga dimaksudkan untuk mencegah bertambahnya korban-korban baru penipuan berkedok investasi oleh KKM. Pemerintah Daerah khususnya ingin mencegah kerusakan pola pikir masyarakat yang selama ini terjebak pada mimpi di siang bolong. Ingin cepat kaya tapi sedikit berusaha. Ya.... kalau niat ini penulis setuju. Tapi.........

Ingatlah.... social cost yang harus dikorbankan akibat penutupan KKM ini. Jika pihak yang bertangungjawab atas pembekuan KKM mampu menyelesaikan permasalahan ini dengan Cepat, Adil dan Bijaksana,,, maka mereka akan dielu-elukan sebagai seorang Pahlawan. Tapi jika pihak tersebut hanya bisa menutup KKM tapi tidak bisa mencarikan solusi terbaik maka bersiap-siapalah menyandang gelar sebagai Pahlawan Kesiangan.

Memang kebaikan itu akan selalu dipenuhi oleh cobaan-cobaan. Penulis akan tetap mendukung dan mendoakan mudah-mudahan POLDA Bali, Polres Karangasem dan dengan dukungan Pemerintah Daerah Kabupaten Karangasem dapat mencarikan solusi terbaik ”Win-win solution” untuk nasabah KKM yang belum mendapatkan haknya. Selesaikanlah Masalah tanpa Masalah baru. Jangan Biarkan Karangasem Menangis .................

Rabu, 11 Februari 2009

Analisis Prioritas Sektoral Penyerapan Tenaga Kerja di Kabupaten Karangasem Tahun 1997-2006









I. ISU UTAMA
Permasalahan utama yang terjadi di Kabupaten Karangasem adalah pertumbuhan ekonomi tidak selalu diikuti dengan penciptaan kesempatan kerja, hal ini dapat dilihat dari menurunnya kesempatan kerja meskipun pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan.

Pertumbuhan ekonomi yang tidak mendorong penyerapan tenaga kerja akan menyebabkan terjadinya masalah pengangguran dan kemiskinan yang bisa bermuara pada timbulnya ketidakstabilan sosial. Sementara penyerapan tenaga kerja yang tidak mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi akan menciptakan ancaman bagi tercapainya pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Secara makro laju pertumbuhan kesempatan kerja dapat dikaitkan dengan laju pertumbuhan ekonomi. Dengan kata lain pertumbuhan ekonomi akan mempengaruhi laju pertumbuhan kesempatan kerja (Widodo, 1990: 111).

Upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja yang optimal dari segi jumlah, produktivitas dan efisiensi memerlukan kebijakan yang memperhitungkan kondisi internal maupun perkembangan eksternal. Kondisi internal dan eksternal meliputi pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja, perkembangan dan efisiensi pemanfaatan investasi, produktivitas, elastisitas dan shift-share serta location quotien sebagai input bagi pengambil keputusan (Mansoer dan Asaddin, 2001: 89-103).

II. FAKTA EMPIRIS
Untuk dapat membandingkan perkembangan pertumbuhan PDRB dan pertumbuhan kesempatan kerja Kabupaten Karangasem selama tahun 1998 sampai dengan 2006 diakukan analisa dengan memperbandingan laju pertumbuhan kesempatan kerja terhadap laju pertumbuhan ekonomi.

Pada tahun 1999 meskipun perekonomian hanya tumbuh 0,7% akan tetapi mampu memicu tumbuhnya kesempatan kerja hingga tumbuh 11,1% dari tahun sebelumnya. Akan tetapi pada tahun 2002, 2004 dan tahun 2006 meskipun laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Karangasem mengalami peningkatan akan tetapi hal tersebut tidak diikuti dengan meningkatnya kesempatan kerja.

Dari perkembangan data di atas maka sulit untuk menyimpulkan apakah pertumbuhan kesempatan kerja di Kabupaten Karangasem sejalan dengan teori pertumbuhan ekonomi dalam teori Todaro di mana pertumbuhan PDB biasanya 3 sampai 4 kali pertumbuhan kesempatan kerjanya (lihat Kemu dan Nurhidayat, 2005: 61).

Akan tetapi dari rata-rata pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja di Kabupaten Karangasem selama periode 1998 sampai dengan 2006 didapatkan bahwa rata-rata pertumbuhan PDRB mencapai angka 2,76% sedangkan kesempatan kerja hanya tumbuh 0,38%. Ini artinya tumbuhnya perekonomian Kabupaten Karangasem tidak didukung dengan pertumbuhan investasi terutama yang bersifat padat karya, hal ditandai dengan penciptaan kesempatan kerja yang masih rendah.

III. Sumber data dan Metodologi
Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa data runtut waktu periode 1997-2006. Data terdiri dari PDRB Kabupaten Karangasem ADHK 2000 tahun 1997-2006, kesempatan kerja Kabupaten Karangasem tahun 1997-2006, dan data kesempatan kerja Provinsi Bali tahun 1997-2006.

Penelitian ini menggunakan alat analisis kebijakan optimasi prioritas sektoral dengan memperhitungkan kondisi internal dan eksternal meliputi pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja, produktivitas dan elastisitas kesempatan kerja, dan tingkat spesialisasi.


IV. Hasil Penelitian

Dari hasil penghitungan rata-rata terhadap komponen pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja, produktivitas dan elastisitas kesempatan kerja, dan tingkat spesialisasi, maka dapat disimpulkan bahwa sektor perdagangan, hotel dan restoran merupakan sektor prioritas dalam penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Karangasem selama kurun waktu 1997 sampai dengan 2006.

Elastisitas kesempatan kerja pada sektor perdagangan, hotel dan restoran menunjukkan angka negatif artinya penambahan output pada sektor ini hanya dapat dilakukan dengan cara mengurangi tenaga kerja pada sektor tersebut. Meskipun daya serap tenaga kerja pada sektor ini rendah akan tetapi penurunan jumlah pekerja pada sektor perdagangan, hotel dan restoran ternyata mampu memacu laju produktivitas tenaga kerja, dengan kata lain penurunan jumlah tenaga kerja pada sektor tersebut ternyata justru mampu menghasilkan nilai tambah bagi sektor tersebut.

Pariwisata sebagai salah satu subsektor dari sektor perdagangan, hotel dan restoran merupakan sektor yang dapat memberikan efek multiplier terhadap sektor ekonomi yang lain. Menurut Pao (2005) ada dua jenis dampak yang ditimbulkan oleh industri pariwisata, yaitu dampak langsung (direct effects) dan dampak tidak langsung (indirect effects) (lihat Mustika, 2007: 29). Dampak langsungnya adalah perubahan yang terjadi pada industri pariwisata, yang berkaitan langsung dengan pengeluaran wisatawan. Dampak tidak langsungnya adalah pada penjualan, pendapatan, atau kesempatan kerja dari sektor yang tidak berkaitan langsung dengan sektor pariwisata.

Kebijakan yang dapat diambil oleh pemerintah untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja pada sektor perdagangan, hotel dan restoran tanpa harus menurunkan produktivitas tenaga kerja adalah dengan tetap menjaga pertumbuhan output sektor tersebut untuk tetap tumbuh lebih tinggi dari laju pertumbuhan kesempatan kerjanya.

Upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah antara lain meningkatkan jumlah investasi pada sektor pariwisata khususnya investasi swasta. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mustika (2007) bahwa investasi swasta sektor pariwisata secara parsial berpengaruh positif terhadap penyerapan tenaga kerja di Provinsi Bali tahun 2002-2005. Apabila investasi swasta sektor pariwisata naik sebesar Rp1 miliar, maka akan menyerap tenaga kerja sebanyak 11 orang. Hal itu berarti bahwa untuk menyerap 1 orang tenaga kerja, dibutuhkan investasi swasta sektor pariwisata sebesar Rp100 juta.

Di Kabupaten Karangasem sektor pertanian masih tetap berperan dalam penciptaan kesempatan kerja selama tahun 1997 sampai dengan tahun 2006. Indeks spesialisasi lebih besar daripada 1 menunjukkan bahwa sektor pertanian memiliki pangsa yang lebih besar dalam penciptaan kesempatan kerja di Kabupaten Karangasem daripada pangsa sektor tersebut di Provinsi Bali. Nilai elastisitas kesempatan kerja sektor pertanian yang positif yaitu 1,21 memperlihatkan bahwa setiap penambahan PDRB mampu menambah kesempatan kerja 1,21 unit.

Meskipun sektor ini mampu menyediakan kesempatan kerja yang luas di Kabupaten Karangasem akan tetapi bertambahnya jumlah tenaga kerja pada sektor tersebut ternyata tidak mampu memacu laju produktivitas tenaga kerja di mana tambahan tenaga kerja ternyata tidak berdampak pada peningkatan produksi. Untuk tetap menjaga kemampuan sektor pertanian dalam menyerap tenaga kerja tanpa harus menurunkan produktivitas tenaga kerja maka output sektor ini harus mampu tumbuh lebih tinggi dari laju pertumbuhan kesempatan kerja.

Menurut Makmun dan Yasin (2003: 57) dalam rangka mendorong pertumbuhan sektor pertanian perlu dilakukan terobosan dalam bentuk: a) menyediakan prasarana dasar baik bersifat “Directly Productive Activity” (DPA) maupun Social Overhead Capital (SOC). Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan kondisi dasar bagi perluasan investasi dan peningkatan produktifitas tenaga kerja, b) penanganan secara simultan baik terhadap penciptaan prasarana maupun perbaikan kualitas tenaga kerja dan peningkatan investasi pada sektor pertanian, dan c) pemanfaatan sumber daya alam dapat dioptimalkan dengan mengembangkan faktor teknologi industri yang berorientasi pada pertanian serta tenaga kerja yang terampil dan unggul.