WELCOME TO MOMMY'S TRIPLE BLOG

MENJADI ABDI NEGARA DAN MENJADI SEORANG IBU MEMBUAT HIDUPKU SEMAKIN BERWARNA. PENGALAMAN BERTUGAS DI PROTOKOL SEKALIGUS MENJADI IBU DARI ANAK KEMBAR TIGA MEMBUAT HARI DEMI HARI DALAM HIDUP INI SEAKAN BEGITU BERARTI UNTUK DILUPAKAN.



MUDAH-MUDAHAN BLOG INI MAMPU MENJADI TEMPAT UNTUK BERBAGI IDE BAGI PARA SAHABAT ATAUPUN SEKEDAR SHARING PENGALAMAN BAIK DI BIDANG KEPROTOKOLAN MAUPUN DALAM PERJUANGAN UNTUK MEWUJUDKAN MIMPI MENJADI SEORANG IBU.



Kamis, 21 Mei 2009

PEMBINAAN LOMBA MARS DAN HYMNE KABUPATEN KARANGASEM


Bagian Humas Protokol Setda Kab. Karangasem sebentar lagi akan mengadakan hajatan tahunan. In our planning Jumat tanggal 12 Juni nanti kita akan mengadakan Lomba Mars dan Hymne Kabupaten Karangasem yang akan diikuti oleh 8 (delapan) SMA mewakili kecamatan se-Kabupaten Karangasem. Lomba kali ini akan memperebutkan Piala Tetap Bupati Karangasem untuk Kategori Paduan Suara Terbaik dan hadiah berupa uang tunai senilai Rp 2 juta untuk Juara I, untuk pemenang II sebesar Rp 1,5 juta dan Rp 1 juta untuk juara III. Panitia juga akan memberikan Penghargaan untuk Dirigen Berpenampilan Tebaik (Best Performance).

Sebagai stimulan, Panitia telah memberikan uang pembinaan sebesar Rp 1 juta rupiah kepada sekolah peserta lomba. Selain itu pada saat pelaksanaan lomba juga akan diserahkan bantuan uang saku kepada peserta lomba, walaupun hanya Rp 20.000 per orang tapi bagi anak SMA jumlah itu lebih dari uang saku harian mereka.

Lomba Mars dan Hymne Kabupaten Karangasem kali ini adalah lomba untuk yang kedua kalinya. Lomba seperti ini mulai diadakan tahun lalu, dan diikuti oleh para guru yang mewakili masing-masing kecamatan. Tujuan diadakannya lomba ini adalah untuk mensosialisasikan lagu Mars dan Hymne Kab. Karangasem kepada seluruh masyarakat Karangasem sebagai salah satu cara untuk menumbuhkan rasa cinta dan rasa memiliki terhadap tanah kelahirannya. Melalui Sosialisasi Mars dan Hymne ini diharapkan generasi muda dari Gumi Lahar ini tidak akan terbenam oleh stigma bahwa Karangasem adalah kabupaten miskin dan tertinggal. Tapi justru sebaliknya bahwa Kab. Karangasem ibarat Mutiara yang terpendam, penuh dengan nilai-nilai sejarah dan budaya adiluhur yang patut kita banggakan.

Panitia dimana Kasubag Protokol sebagai Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan Sosialisasi Mars dan Hymne Kab. Karangasem dan Tim Pembina yang terdiri Bp Ketut Sadiana (Pencipta Lagu Mars dan Hymne Kab. Karangasem), Bp Ketut Bawa dan Kadek Budi selama kurang lebih dua bulan telah melakukan Pembinaan ke masing-masing sekolah peserta lomba. Sekolah yang akan mengikuti lomba antara lain: SMAN 1 Karangasem, SMAN 1 Bebandem, SMAN 1 Kubu, SMKN 1 Abang, SMAN 1 Manggis, SMAN 1 Sidemen, SMAN 1 Selat dan SMAN 1 Sidemen.

Pembinaan sebelum pelaksanaan lomba dimaksudkan untuk menyamakan persepsi antara sekolah yang sudah belajar secara autodidak melalui DVD dan VCD yang kita bagikan ketika rapat awal, dengan Tim Pembina yang memang profesional dan tahu benar tentang lagu ini. Sehingga pada saat pelaksanaan Lomba, kesalahan-kesalahan dalam menyanyikan Mars dan Hymne Kabupaten Karangasem akan dapat diminimalkan.

Sejauh ini dari hasil pembinaan, kesiapan sekolah untuk mengikuti lomba sudah mencapai 80%. Tidak disangka-sangka ternyata antusiasme para siswa untuk mengikuti lomba ini sangat besar. Siswa berlatih dengan rajin dan bersemangat,,, sampai–sampai ada yang tertangkap mata panitia ketika mereka tampil terlihat sedikit over PD. Tapi itu bukanlah masalah, Semangat itu yang Utama, Enak atau Tidak Enak dipandang mata itu urusan belakangan. He,,,,,

Seminggu sebelum pelaksanaan lomba Panitia akan mengadakan Technical Meeting, untuk memantapkan jelang pelaksanaan lomba. Panitia mencoba untuk mendesain lomba Mars dan Hymne Kabupaten Karangasem tahun ini menjadi semenarik mungkin. Kita akan mengundang Jun BRTV sebagai bintang tamu dalam lomba nanti. Dan untuk menyemarakkan lomba, Panitia bekerjasama dengan PT Telkomsel Grapari Denpasar akan mengadakan Doorprize untuk para Undangan yang hadir saat itu.

Panitia berharap dan berusaha untuk Menyukseskan Lomba Mars dan Hymne Kabupaten Karangasem ini menjadi The Competition of The Year on 2009. He,,,, he..........just wait and see. We invite you to come and see it more…. Please come and join with us :)

Senin, 09 Maret 2009

Suara Hati Se-orang Purna Praja


Ada apa dengan IPDN???
Sepertinya purna praja tak akan pernah berhenti mengelus dada melihat ulah adik2 di Lembah Manglayang. Hampir setiap tahun ada saja berita yang memojokkan kampus kita tercinta. Entah itu kasus kekerasan bahkan pelecehan seksual.
Apa yang salah dengan kampus ini? Sebagai seorang alumni, terasa sulit untuk mengurai benang kusut ini. Sangat disayangkan, kalau kampus tak berdosa ini mendapat caci maki dr orang2 yang tak mengerti dengan kondisi yang terjadi didalamnya. Siapa sebenarnya yg harus dipersalahkan untuk kelalaian dan permasalahan yang terjadi di Kampus ini.
Pertama : Tinjau kembali Proses Penerimaan Calon Praja IPDN
Jangan Utamakan Kuantitas,,, tapi perhatikanlah KUALITAS. Selama ini jumlah praja yang diterima di IPDN bahkan bisa mencapai 1000 orang untuk seluruh Indonesia, dengan alasan permintaan daerah. I think it doesn't wise reason. Lebih baik yang diterima hanya 100 orang, tp ke-100 orang tersebut adalah orang-orang yang cerdas secara intelektual dan emosional, yang nantinya akan menjadi kader-kader pemimpin yang berilmu dan beriman di daerah.

Kedua : Tinjau kembali kurikulum pendidikan, pelatihan dan pengasuhan. Pendidikan harus diisi dengan ilmu2 yang Up to date. IPDN harus bekerjasama dengan UI, UNPAD ataupun UGM untuk dapat memperluas wawasan.
Untuk pengasuhan : minimal 1 barak harus diawasi oleh 1 orang pengasuh. Dan pengasuh itu harus tinggal bersama praja

Ketiga : Lakukan kembali fit and proper test pada Dosen dan Tenaga Pengasuh di IPDN. Bagaimanapun mereka adalah rule model bagi para siswa disana. Menurut penulis tenaga pengajar dan pengasuh di IPDN banyak yang harus diperbaharui.
Pengasuh memiliki peran yang menentukan bagi pembentukan karakter praja. Menurut kacamata penulis,,,banyak pengasuh IPDN yang kurang layak untuk dijadikan rule model, baik dari kecerdasan intelektual maupun emotionalnya.

Pengalaman pengulis selama mengikuti pendidikan kedinasan di SMA TN, meskipun pengasuh berasal dr militer tapi mereka mampu menempatkan diri sebagai seorang senior, sahabat bahkan mampu menggantikan sosok seorang ibu. Pengasuh putri khusunya dipilih dari para KOWAD/POLWAN terbaik dr kesatuan mereka masing2.


Sudah sepatutnya setiap orang yang telah mendapatkan kesempatan menuntut ilmu di Lembah Manglayang, tahu dan sadar untuk selalu berterimakasih pada setiap kemudahan dan fasilitas yang telah diberikan oleh Pihak Sekolah. Ingatlah bahwa kita adalah Anak-Anak Negara, anak-anak yang beruntung karena telah dibiayai oleh Pemerintah dari pajak yang dibayarkan oleh seluruh rakyat Indonesia dari Sabang Sampai Merauke. Rakyat Indonesia tidak pernah mengharapkan Ucapan Terimakasih dari Mulut Kita Sendiri,,, tapi mereka hanya mengharapkan bahwa Anak-anak Negara ini nantinya akan menjadi Pemimpin-Pemimpin Masa Depan yang akan Berbakti bagi Masyarakat, Bangsa, Negara dan Dunia.

Jadi sudah sepatutnya kita sebagai anak negara untuk Sadar Diri........

Senin, 02 Maret 2009

Penerimaan PKL Mahasiswa Sekolah Tinggi Statistik


Meski udara terasa panas dan tidak bersahabat akan tetapi acara penerimaan Praktek Kerja Lapangan Angkatan ke 4 Sekolah Tinggi Statistik di Kabupaten Karangasem tetap berlangsung dengan meriah. Peserta PKL diterima oleh Wakil Bupati di Obyek Wisata Taman Soekasada Udjoeng. Pada acara pembukaan tersebut, Kepala BPS Pusat Dr Rusman Heriawan secara langsung menyerahkan peserta PKL yang berjumlah 310 orang yang terdiri dari 290 siswa dan didampingi oleh 42 tenaga pengajar. Rencananya setelah acara pembukaan mereka akan langsung disebar pada 8 kecamatan di Kabupaten Karangasem dan akan ditempatkan di rumah-rumah penduduk.

Praktek Kerja Lapangan ini akan berlangsung selama 11 hari mulai tanggal 2-13 Maret 2008. Menurut Kepala BPS Karangasem Ir. AAA. Suarningsih (3-3-09), untuk melakukan uji terhadap variabel yag digunakan Pemkab Karangasem bekerjasama dengam Badan Pusat Statistik (BPS) pusat kini bakal meneliti peta kemiskinan Karangasem berikut 14 variabel melalui Program Penelitin Sosial Ekonomi Praktek Kerja Lapangan. Program tersebut merupakan alokasi BPS pusat guna mengetahui lebih jauh spesifikasi dan strata kemiskinan masyarakat Kabupaten Karangasem yang dinilai memiliki kekhasan tersendiri diatara Kabupaten di Indonesia.

Hal ini dinilainya merupakan kesempatan baik karena mahasiswa akan mengkaji relevansi variabel yang digunakan mengukur kemiskinan, dan jika mungkin dapat menyempurnakannya. Sebelumnya metode penelitian menggunakan pola scoring dimana RTM yang memiliki score 0,2 kebawah tidak dikatakan miskin, tetapi sekarang dengan metode proximin test digunakan untuk menentukan kondisi suatu rumah tangga masuk katagori rumah tangga miskin pada level mana. Kemiskian itu menurut Suarningsih, sifatnya relatif bahkan di negara maju pun kemiskinan masih ada, jadi kemiskinan tidak dapat dihapus, tetapi kalau berkurang dan diturunkan masih memungkinkan..

Senin, 23 Februari 2009

KKM DIBEKUKAN ???





Buyar sudah impian masyarakat Karangasem, hidup enak sambil menunggu saatnya ”Play” tiba. Jumat kelabu bagi ratusan ribu nasabah KKM. Bagaimana tidak,,, secara tiba-tiba tim pemeriksa dari POLDA BALI didampingi POLRES Karangasem menggerebek KKM dan langsung mengamankan pengurusnya. Tanpa menunggu waktu lama, saat itu juga operasional KKM langsung dibekukan, dan aset-aset KKM langsung diamankan pihak Kepolisian. Padahal saat itu antrean calon nasabah masih antusias ingin menginvestasikan uangnya di KKM.

Pertanyaannya adalah ”Kenapa KKM dibekukan?”. Padahal belum pernah ada pengaduan dari nasabahnya. Secara kasat mata kinerja KKM saat ini dapat dikatakan sedang berada pada masa jayanya. Mengingat katanya nanti pada tanggal 25 Pebruari akan dibuka Trading Center, yaitu pusat perbelanjaan terbesar dan terlengkap di Karangasem. Apakah dibekukannya operasional KKM terkait dengan penyelahgunaan ijin usaha atau apakah karena unsur politis saja ???

Menyedihkan memang melihat kondisi ini, dan seperti tanpa dikomando, masyarakat langsung turun ke jalan untuk meminta kejelasan mengenai apa yang terjadi. Siapa sebenarnya yang harus mereka tuntut, agar uang mereka bisa kembali. Apakah pengurus KKM ? Tidak juga,,, mereka tidak membawa kabur uang nasabah. Apakah auditor? Ngak mungkin donk. Mereka hanya orang yang menjalankan perintah dari atasan atas pengaduan dari lembaga / seseorang atau sekelompok orang yang mengatas namakan masyarakat Karangasem yang resah dengan keberadaan KKM? Jadi siapa donk dalangnya ???

Yang jelas saat ini kita tidak perlu mencari kambing hitam untuk dipersalahkan. Jika tidak ada yang bertindak dan bertanggungjawab,, tidak menutup kemungkinan aksi anarkisme akan mengganggu keamanan dan stabilitas di Karangasem. Bisakah kita bayangkan Multiplier Bad Effect akibat penutupan KKM?

Pertama : tentu saja hal ini akan menimbulkan gejolak sosial. Karangasem tidak aman lagi, dan hal ini akan mempengaruhi kondisi perekonomian regional khususnya dari sektor pariwisata. Orang asing akan berfikir ulang utk berlibur ke Karangasem dalam waktu dekat ini.

Kedua : tingkat stres, munculnya sikap apatis masyarakat terhadap pemerintah, bahkan yang harus diwaspadai adalah kemungkinan meningkatnya kasus bunuh diri di Karangasem. Why .......??? Bayangkan mereka yang menginvestasikan uangnya di KKM bukan hanya masyarakat yang berkantong tebal saja, tapi juga masyarakat tidak mampu yang hanya ingin merasakan nikmatnya mendapatkan uang tanpa harus terlalu keras membanting tulangnya. Fenomena diperdesaan, banyak masyarakat yang menjual ternak,, lalu uangnya diinvestasikan di KKM, dengan harapan 3 bln kemudian akan mendapatkan keuntungan. Tidak hanya itu, bahkan banyak yang menjual perhiasan satu2 nya karena ingin merasakan nikmatnya uang panas.

Salahkan mereka masyarakat kecil yang terlalu banyak bermimpi? Tidak.... mereka bukanlah orang bodoh,,, mereka bukannya tidak tahu akan resiko menaruh uang di KKM,,, tapi mereka hanya ingin ikut merasakan euforia keuntungan yang ditawarkan di tengah sulitnya kondisi perekonomian.

Ketiga : opini yang berkembang dimasyarakat saat ini adalah bahwa penutupan KKM tidak lebih dari sekedar persaingan Politik untuk Tahun 2010. Jika hal ini memang terjadi,,, memang sangat menyedihkan sekali kedewasaan berpolitik di Indonesia.

According to my opinion : Penutupan KKM sebenarnya murni karena masalah Pelanggaran Hukum semata. Dikatakan bahwa usaha KKM melanggar UU Perbankan, dimana KKM telah melakukan capital investmen padahal ijin yang dikantongi hanyalah ijin koperasi. Penutupan KKM juga dimaksudkan untuk mencegah bertambahnya korban-korban baru penipuan berkedok investasi oleh KKM. Pemerintah Daerah khususnya ingin mencegah kerusakan pola pikir masyarakat yang selama ini terjebak pada mimpi di siang bolong. Ingin cepat kaya tapi sedikit berusaha. Ya.... kalau niat ini penulis setuju. Tapi.........

Ingatlah.... social cost yang harus dikorbankan akibat penutupan KKM ini. Jika pihak yang bertangungjawab atas pembekuan KKM mampu menyelesaikan permasalahan ini dengan Cepat, Adil dan Bijaksana,,, maka mereka akan dielu-elukan sebagai seorang Pahlawan. Tapi jika pihak tersebut hanya bisa menutup KKM tapi tidak bisa mencarikan solusi terbaik maka bersiap-siapalah menyandang gelar sebagai Pahlawan Kesiangan.

Memang kebaikan itu akan selalu dipenuhi oleh cobaan-cobaan. Penulis akan tetap mendukung dan mendoakan mudah-mudahan POLDA Bali, Polres Karangasem dan dengan dukungan Pemerintah Daerah Kabupaten Karangasem dapat mencarikan solusi terbaik ”Win-win solution” untuk nasabah KKM yang belum mendapatkan haknya. Selesaikanlah Masalah tanpa Masalah baru. Jangan Biarkan Karangasem Menangis .................

Rabu, 11 Februari 2009

Analisis Prioritas Sektoral Penyerapan Tenaga Kerja di Kabupaten Karangasem Tahun 1997-2006









I. ISU UTAMA
Permasalahan utama yang terjadi di Kabupaten Karangasem adalah pertumbuhan ekonomi tidak selalu diikuti dengan penciptaan kesempatan kerja, hal ini dapat dilihat dari menurunnya kesempatan kerja meskipun pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan.

Pertumbuhan ekonomi yang tidak mendorong penyerapan tenaga kerja akan menyebabkan terjadinya masalah pengangguran dan kemiskinan yang bisa bermuara pada timbulnya ketidakstabilan sosial. Sementara penyerapan tenaga kerja yang tidak mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi akan menciptakan ancaman bagi tercapainya pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Secara makro laju pertumbuhan kesempatan kerja dapat dikaitkan dengan laju pertumbuhan ekonomi. Dengan kata lain pertumbuhan ekonomi akan mempengaruhi laju pertumbuhan kesempatan kerja (Widodo, 1990: 111).

Upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja yang optimal dari segi jumlah, produktivitas dan efisiensi memerlukan kebijakan yang memperhitungkan kondisi internal maupun perkembangan eksternal. Kondisi internal dan eksternal meliputi pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja, perkembangan dan efisiensi pemanfaatan investasi, produktivitas, elastisitas dan shift-share serta location quotien sebagai input bagi pengambil keputusan (Mansoer dan Asaddin, 2001: 89-103).

II. FAKTA EMPIRIS
Untuk dapat membandingkan perkembangan pertumbuhan PDRB dan pertumbuhan kesempatan kerja Kabupaten Karangasem selama tahun 1998 sampai dengan 2006 diakukan analisa dengan memperbandingan laju pertumbuhan kesempatan kerja terhadap laju pertumbuhan ekonomi.

Pada tahun 1999 meskipun perekonomian hanya tumbuh 0,7% akan tetapi mampu memicu tumbuhnya kesempatan kerja hingga tumbuh 11,1% dari tahun sebelumnya. Akan tetapi pada tahun 2002, 2004 dan tahun 2006 meskipun laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Karangasem mengalami peningkatan akan tetapi hal tersebut tidak diikuti dengan meningkatnya kesempatan kerja.

Dari perkembangan data di atas maka sulit untuk menyimpulkan apakah pertumbuhan kesempatan kerja di Kabupaten Karangasem sejalan dengan teori pertumbuhan ekonomi dalam teori Todaro di mana pertumbuhan PDB biasanya 3 sampai 4 kali pertumbuhan kesempatan kerjanya (lihat Kemu dan Nurhidayat, 2005: 61).

Akan tetapi dari rata-rata pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja di Kabupaten Karangasem selama periode 1998 sampai dengan 2006 didapatkan bahwa rata-rata pertumbuhan PDRB mencapai angka 2,76% sedangkan kesempatan kerja hanya tumbuh 0,38%. Ini artinya tumbuhnya perekonomian Kabupaten Karangasem tidak didukung dengan pertumbuhan investasi terutama yang bersifat padat karya, hal ditandai dengan penciptaan kesempatan kerja yang masih rendah.

III. Sumber data dan Metodologi
Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa data runtut waktu periode 1997-2006. Data terdiri dari PDRB Kabupaten Karangasem ADHK 2000 tahun 1997-2006, kesempatan kerja Kabupaten Karangasem tahun 1997-2006, dan data kesempatan kerja Provinsi Bali tahun 1997-2006.

Penelitian ini menggunakan alat analisis kebijakan optimasi prioritas sektoral dengan memperhitungkan kondisi internal dan eksternal meliputi pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja, produktivitas dan elastisitas kesempatan kerja, dan tingkat spesialisasi.


IV. Hasil Penelitian

Dari hasil penghitungan rata-rata terhadap komponen pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja, produktivitas dan elastisitas kesempatan kerja, dan tingkat spesialisasi, maka dapat disimpulkan bahwa sektor perdagangan, hotel dan restoran merupakan sektor prioritas dalam penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Karangasem selama kurun waktu 1997 sampai dengan 2006.

Elastisitas kesempatan kerja pada sektor perdagangan, hotel dan restoran menunjukkan angka negatif artinya penambahan output pada sektor ini hanya dapat dilakukan dengan cara mengurangi tenaga kerja pada sektor tersebut. Meskipun daya serap tenaga kerja pada sektor ini rendah akan tetapi penurunan jumlah pekerja pada sektor perdagangan, hotel dan restoran ternyata mampu memacu laju produktivitas tenaga kerja, dengan kata lain penurunan jumlah tenaga kerja pada sektor tersebut ternyata justru mampu menghasilkan nilai tambah bagi sektor tersebut.

Pariwisata sebagai salah satu subsektor dari sektor perdagangan, hotel dan restoran merupakan sektor yang dapat memberikan efek multiplier terhadap sektor ekonomi yang lain. Menurut Pao (2005) ada dua jenis dampak yang ditimbulkan oleh industri pariwisata, yaitu dampak langsung (direct effects) dan dampak tidak langsung (indirect effects) (lihat Mustika, 2007: 29). Dampak langsungnya adalah perubahan yang terjadi pada industri pariwisata, yang berkaitan langsung dengan pengeluaran wisatawan. Dampak tidak langsungnya adalah pada penjualan, pendapatan, atau kesempatan kerja dari sektor yang tidak berkaitan langsung dengan sektor pariwisata.

Kebijakan yang dapat diambil oleh pemerintah untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja pada sektor perdagangan, hotel dan restoran tanpa harus menurunkan produktivitas tenaga kerja adalah dengan tetap menjaga pertumbuhan output sektor tersebut untuk tetap tumbuh lebih tinggi dari laju pertumbuhan kesempatan kerjanya.

Upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah antara lain meningkatkan jumlah investasi pada sektor pariwisata khususnya investasi swasta. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mustika (2007) bahwa investasi swasta sektor pariwisata secara parsial berpengaruh positif terhadap penyerapan tenaga kerja di Provinsi Bali tahun 2002-2005. Apabila investasi swasta sektor pariwisata naik sebesar Rp1 miliar, maka akan menyerap tenaga kerja sebanyak 11 orang. Hal itu berarti bahwa untuk menyerap 1 orang tenaga kerja, dibutuhkan investasi swasta sektor pariwisata sebesar Rp100 juta.

Di Kabupaten Karangasem sektor pertanian masih tetap berperan dalam penciptaan kesempatan kerja selama tahun 1997 sampai dengan tahun 2006. Indeks spesialisasi lebih besar daripada 1 menunjukkan bahwa sektor pertanian memiliki pangsa yang lebih besar dalam penciptaan kesempatan kerja di Kabupaten Karangasem daripada pangsa sektor tersebut di Provinsi Bali. Nilai elastisitas kesempatan kerja sektor pertanian yang positif yaitu 1,21 memperlihatkan bahwa setiap penambahan PDRB mampu menambah kesempatan kerja 1,21 unit.

Meskipun sektor ini mampu menyediakan kesempatan kerja yang luas di Kabupaten Karangasem akan tetapi bertambahnya jumlah tenaga kerja pada sektor tersebut ternyata tidak mampu memacu laju produktivitas tenaga kerja di mana tambahan tenaga kerja ternyata tidak berdampak pada peningkatan produksi. Untuk tetap menjaga kemampuan sektor pertanian dalam menyerap tenaga kerja tanpa harus menurunkan produktivitas tenaga kerja maka output sektor ini harus mampu tumbuh lebih tinggi dari laju pertumbuhan kesempatan kerja.

Menurut Makmun dan Yasin (2003: 57) dalam rangka mendorong pertumbuhan sektor pertanian perlu dilakukan terobosan dalam bentuk: a) menyediakan prasarana dasar baik bersifat “Directly Productive Activity” (DPA) maupun Social Overhead Capital (SOC). Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan kondisi dasar bagi perluasan investasi dan peningkatan produktifitas tenaga kerja, b) penanganan secara simultan baik terhadap penciptaan prasarana maupun perbaikan kualitas tenaga kerja dan peningkatan investasi pada sektor pertanian, dan c) pemanfaatan sumber daya alam dapat dioptimalkan dengan mengembangkan faktor teknologi industri yang berorientasi pada pertanian serta tenaga kerja yang terampil dan unggul.

Selasa, 27 Januari 2009

Hukuman Mati Terdakwa Kasus Susu Bermelamin

Terdakwa Zhang Yujun dan Zhang Yanzhang dituduh terlibat dalam produksi bubuk yang dibubuhi melamine yang membuat susu tampak berkadar protein lebih tinggi.
"Bubuk protein" itu kemudian dijual ke perusahaan susu, dan menyebabkan kematian enam balita dan membuat sakit 300.000 anak kecil.
Dua vonis ini merupakan hukuman pertama yang dijatuhkan berkaitan dengan skandal tersebut.
Sementara itu, hukuman seumur hidup dijatuhkan kepada Tian Wenhua yang menjabat general manager Sanlu Group.
Wartawan BBC Quentin Sommerville di Beijing melaporkan, wanita itu telah mengaku bersalah atas dakwaan memproduksi dan menjual produk palsu atau di bawah standard.
Perusahaan susu Sanlu menjadi titik pusat skandal. Dalam kasus ini, susu ditambahi air untuk memperbanyak volume pasokan dan menangguk untung lebih besar.
Mereka dituduh mencoba mengelabui publik dari perbuatan mereka dengan menambahkan bahan kimia industri, melamine.
Skandal ini mulai terkuak September lalu ketika sejumlah bayi, yang mengkonsumsi susu bubuk formula, jatuh sakit dengan gejala batu ginjal akibat keracuan melamine.
Ilegal
Vonis mati untuk Zhang Yujun adalah hukuman pertama yang dijatuhkan oleh Pengadilan Rakyat Wilayah Shijiazhuang di belahan utara Cina, yang menjadi basis tempat perusahan susu Sanlu.

Zhang Yujun dituduh membahayakan keselamatan publik dengan menghasilkan dan menjual susu yang dibubuhi melamine industri, lapor kantor berita Xinhua. Dia dituding mengelola tempat kerja ilegal di Provinsi Shandong di belahan timur Cina, yang memproduksi 600 ton bubuk protein palsu dan merupakan sumber melamine terbesar di Cina.
Pemerintah khawatir akan kemarahan publik atas peristiwa tersebut, dan bahkan menahan orang tua dari bayi yang menderita, lapor wartawan BBC Quentin Sommerville. Misalnya, Dong Xiouliang, ditahan oleh pihak berwenang ketika hendak terbang ke Shijiazhuang, guna mendengarkan keputusan pengadilan hari ini.
"Saya kira saya memiliki hak untuk melihat jalannya pengadilan. Kami ingin melihat para penjahat itu dihukum," ujar Dong. "Kami tidak akan membuat keributan, dan mereka sama sekali tidak memiliki alasan untuk menghalangi kebebasan kami," tambahnya.
Keluarga para korban skandal mengatakan, kurangnya keterbukaan, dan korupsi di kalangan pejabat membuat mereka sama sekali tidak percaya dengan sistem keamanan pangan negeri itu, dan kasus seperti ini bisa terjadi lagi di masa depan.
Saat menanggapi vonis pengadilan, Zheng Zhu Zhen, yang anaknya meninggal setelah meminum susu yang tercemar, mengatakan, Tian Wenhua semestinya juga dijatuhi hukuman mati. "Meskipun mereka yang terlibat langsung dalam skandal ini dihukum, namun kami tidak senang bahwa pejabat di tingkat pemerintahan lokal, dan pemerintah pusat yang bertanggung jawab, tidak diadili," kata Zheng

My Comment:
Memprihatinkan sekali....sepertinya di dunia ini masih banyak orang yang ingin bahagia di atas penderitaan orang lain. Bagaimana tidak, melamin yang berbahaya bagi manusia malah dengan sengaja dicampurkan ke dalam susu yang notabene merupakan unsur pelengkap gizi dalam makanan. Ingat kan 4 sehat lima sempurna !!!
Banyak orang tua yang mengharapkan buah hatinya akan tumbuh sehat dan cerdas. Susu yang mahal pun bukanlah masalah demi investasi bagi kualitas buah hati mereka. Tapi apa jadinya, jika susu yang sehat malah menjadi racun pembunuh bagi anak-anak mereka ???
Sangat wajar jika Pengadilan Rakyat Wilayah Shijiazhuang di belahan utara Cina menjatuhkan hukuman mati pada pihak yang terlibat langsung dalam kesengajaan tersebut. Apalah artinya menghilangkan dua atau lebih nyawa orang-orang yang tidak berperikemanusiaan dibandingkan dengan kehilangan tunas-tunas harapan bangsa.
Seharusnya Bangsa Indonesia bercermin pada sikap dan ketegasan dari Pemerintah Cina dalam menegakkan hukum khususnya pada kasus pemalsuan baik pada makanan, obat, etc. Banyak kasus terjadi di Indonesia, mulai dari mencampur borax kedalam bakso, mencampur formalin agar tahu kenyal dan awet, pemalsuan obat maupun jamu, serta masih banyak kasus lainnya. Coba bayangkan apa jadinya jika orang mengkomsumsi obat-obat yang dipalsukan. Maunya sembuh ,,, eh koq malah modar......r.
Tapi Pemerintah Indonesia khususnya Badan POM seolah tidak peduli dan mengganggap sepele masalah-masalah tersebut. Pelaku pemalsuan hanya mendapatkan hukuman 2-3 tahun saja. Pernahkah di bayangkan multiplier bad effect yang ditimbulkan ???
Janganlah beranggapan bahwa rakyat Indonesia sudah semua paham dan sadar serta mampu memilih mana makanan yang layak atau tidak untuk dikonsumsi. Padahal kenyataannya rakyat Indonesia masih banyak yang hidup kekurangan, masih banyak yang belum mengerti arti pentingnya makanan sehat dalam mambangun kualitas anak-anak mereka.
Jadi fenomena melihat anak-anak mengkonsumsi ”bakso dicampur borax, dengan tambahan mie berformalin dan saos yang telah dicampur rodamin, dengan kuah penuh monosodium glutamat” sudah bukan hal aneh lagi di Indonesia. Oh no........... ya Tuhan saya tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi pada mereka dua puluh tahun yang akan datang.
Memang bukan hal yang mudah untuk menyelesaikan masalah pencemaran maupun pemalsuan produk makanan di Negara kita. Apakah di antara kita tidak ada yang prihatin dengan hal ini. Kenapa LSM, Mahasiswa, Parpol ataupun pihak manapun tidak ada yang berani bersuara lantang terhadap kasus-kasus seperti ini??? Apakah isu pencemaran ini kalah menarik dibandingkan dengan isu korupsi ataupun pornografi
Kalau aq boleh berpendapat, saya mendukung Pemerintah Indonesia memberlakukan Hukuman Mati bagi siapapun yang berani melakukan pemalsuan maupun kepada mereka yang dengan sengaja memasukkan zat-zat berbahaya kedalam produk makanan. Maaf jika aku harus berkata : Kill or To be Killed...............

Rabu, 21 Januari 2009

Obama Inauguration Speech


WASHINGTON - My fellow citizens,
I stand here today humbled by the task before us, grateful for the trust you have bestowed, mindful of the sacrifices borne by our ancestors. I thank President Bush for his service to our nation, as well as the generosity and cooperation he has shown throughout this transition
Forty-four Americans have now taken the presidential oath. The words have been spoken during rising tides of prosperity and the still waters of peace. Yet, every so often the oath is taken amidst gathering clouds and raging storms. At these moments, America has carried on not simply because of the skill or vision of those in high office, but because We the People have remained faithful to the ideals of our forbearers, and true to our founding documents.
So it has been. So it must be with this generation of Americans.
That we are in the midst of crisis is now well understood. Our nation is at war, against a far-reaching network of violence and hatred. Our economy is badly weakened, a consequence of greed and irresponsibility on the part of some, but also our collective failure to make hard choices and prepare the nation for a new age. Homes have been lost; jobs shed; businesses shuttered. Our health care is too costly; our schools fail too many; and each day brings further evidence that the ways we use energy strengthen our adversaries and threaten our planet.
These are the indicators of crisis, subject to data and statistics. Less measurable but no less profound is a sapping of confidence across our land — a nagging fear that America's decline is inevitable, and that the next generation must lower its sights.
Today I say to you that the challenges we face are real. They are serious and they are many. They will not be met easily or in a short span of time. But know this, America — they will be met.On this day, we gather because we have chosen hope over fear, unity of purpose over conflict and discord.On this day, we come to proclaim an end to the petty grievances and false promises, the recriminations and worn out dogmas, that for far too long have strangled our politics.We remain a young nation, but in the words of Scripture, the time has come to set aside childish things.
The time has come to reaffirm our enduring spirit; to choose our better history; to carry forward that precious gift, that noble idea, passed on from generation to generation: the God-given promise that all are equal, all are free, and all deserve a chance to pursue their full measure of happiness.In reaffirming the greatness of our nation, we understand that greatness is never a given. It must be earned. Our journey has never been one of short-cuts or settling for less. It has not been the path for the faint-hearted — for those who prefer leisure over work, or seek only the pleasures of riches and fame.
Rather, it has been the risk-takers, the doers, the makers of things — some celebrated but more often men and women obscure in their labor, who have carried us up the long, rugged path towards prosperity and freedom.For us, they packed up their few worldly possessions and traveled across oceans in search of a new life.For us, they toiled in sweatshops and settled the West; endured the lash of the whip and plowed the hard earth.For us, they fought and died, in places like Concord and Gettysburg; Normandy and Khe Sahn.
Time and again these men and women struggled and sacrificed and worked till their hands were raw so that we might live a better life. They saw America as bigger than the sum of our individual ambitions; greater than all the differences of birth or wealth or faction.This is the journey we continue today. We remain the most prosperous, powerful nation on Earth. Our workers are no less productive than when this crisis began. Our minds are no less inventive, our goods and services no less needed than they were last week or last month or last year. Our capacity remains undiminished. But our time of standing pat, of protecting narrow interests and putting off unpleasant decisions — that time has surely passed. Starting today, we must pick ourselves up, dust ourselves off, and begin again the work of remaking America.
For everywhere we look, there is work to be done. The state of the economy calls for action, bold and swift, and we will act — not only to create new jobs, but to lay a new foundation for growth. We will build the roads and bridges, the electric grids and digital lines that feed our commerce and bind us together. We will restore science to its rightful place, and wield technology's wonders to raise health care's quality and lower its cost. We will harness the sun and the winds and the soil to fuel our cars and run our factories. And we will transform our schools and colleges and universities to meet the demands of a new age. All this we can do. All this we will do.Now, there are some who question the scale of our ambitions — who suggest that our system cannot tolerate too many big plans. Their memories are short.
For they have forgotten what this country has already done; what free men and women can achieve when imagination is joined to common purpose, and necessity to courage.What the cynics fail to understand is that the ground has shifted beneath them— that the stale political arguments that have consumed us for so long no longer apply. The question we ask today is not whether our government is too big or too small, but whether it works — whether it helps families find jobs at a decent wage, care they can afford, a retirement that is dignified. Where the answer is yes, we intend to move forward. Where the answer is no, programs will end. And those of us who manage the public's dollars will be held to account — to spend wisely, reform bad habits, and do our business in the light of day — because only then can we restore the vital trust between a people and their government.Nor is the question before us whether the market is a force for good or ill.
Its power to generate wealth and expand freedom is unmatched, but this crisis has reminded us that without a watchful eye, the market can spin out of control — and that a nation cannot prosper long when it favors only the prosperous. The success of our economy has always depended not just on the size of our Gross Domestic Product, but on the reach of our prosperity; on the ability to extend opportunity to every willing heart — not out of charity, but because it is the surest route to our common good.As for our common defense, we reject as false the choice between our safety and our ideals. Our Founding Fathers, faced with perils we can scarcely imagine, drafted a charter to assure the rule of law and the rights of man, a charter expanded by the blood of generations.
Those ideals still light the world, and we will not give them up for expedience's sake. And so to all other peoples and governments who are watching today, from the grandest capitals to the small village where my father was born: know that America is a friend of each nation and every man, woman, and child who seeks a future of peace and dignity, and we are ready to lead once more.Recall that earlier generations faced down fascism and communism not just with missiles and tanks, but with sturdy alliances and enduring convictions. They understood that our power alone cannot protect us, nor does it entitle us to do as we please. Instead, they knew that our power grows through its prudent use; our security emanates from the justness of our cause, the force of our example, the tempering qualities of humility and restraint.We are the keepers of this legacy. Guided by these principles once more, we can meet those new threats that demand even greater effort — even greater cooperation and understanding between nations. We will begin to responsibly leave Iraq to its people, and forge a hard-earned peace in Afghanistan. With old friends and former foes, we will work tirelessly to lessen the nuclear threat, and roll back the specter of a warming planet.
We will not apologize for our way of life, nor will we waver in its defense, and for those who seek to advance their aims by inducing terror and slaughtering innocents, we say to you now that our spirit is stronger and cannot be broken; you cannot outlast us, and we will defeat you.For we know that our patchwork heritage is a strength, not a weakness. We are a nation of Christians and Muslims, Jews and Hindus — and non-believers. We are shaped by every language and culture, drawn from every end of this Earth; and because we have tasted the bitter swill of civil war and segregation, and emerged from that dark chapter stronger and more united, we cannot help but believe that the old hatreds shall someday pass; that the lines of tribe shall soon dissolve; that as the world grows smaller, our common humanity shall reveal itself; and that America must play its role in ushering in a new era of peace.To the Muslim world, we seek a new way forward, based on mutual interest and mutual respect. To those leaders around the globe who seek to sow conflict, or blame their society's ills on the West — know that your people will judge you on what you can build, not what you destroy.
To those who cling to power through corruption and deceit and the silencing of dissent, know that you are on the wrong side of history; but that we will extend a hand if you are willing to unclench your fist.To the people of poor nations, we pledge to work alongside you to make your farms flourish and let clean waters flow; to nourish starved bodies and feed hungry minds. And to those nations like ours that enjoy relative plenty, we say we can no longer afford indifference to suffering outside our borders; nor can we consume the world's resources without regard to effect. For the world has changed, and we must change with it.
As we consider the road that unfolds before us, we remember with humble gratitude those brave Americans who, at this very hour, patrol far-off deserts and distant mountains. They have something to tell us, just as the fallen heroes who lie in Arlington whisper through the ages. We honor them not only because they are guardians of our liberty, but because they embody the spirit of service; a willingness to find meaning in something greater than themselves. And yet, at this moment — a moment that will define a generation — it is precisely this spirit that must inhabit us all.For as much as government can do and must do, it is ultimately the faith and determination of the American people upon which this nation relies. It is the kindness to take in a stranger when the levees break, the selflessness of workers who would rather cut their hours than see a friend lose their job which sees us through our darkest hours. It is the firefighter's courage to storm a stairway filled with smoke, but also a parent's willingness to nurture a child, that finally decides our fate.
Our challenges may be new. The instruments with which we meet them may be new. But those values upon which our success depends — honesty and hard work, courage and fair play, tolerance and curiosity, loyalty and patriotism — these things are old. These things are true. They have been the quiet force of progress throughout our history. What is demanded then is a return to these truths. What is required of us now is a new era of responsibility — a recognition, on the part of every American, that we have duties to ourselves, our nation, and the world, duties that we do not grudgingly accept but rather seize gladly, firm in the knowledge that there is nothing so satisfying to the spirit, so defining of our character, than giving our all to a difficult task.This is the price and the promise of citizenship.
This is the source of our confidence— the knowledge that God calls on us to shape an uncertain destiny.This is the meaning of our liberty and our creed — why men and women and children of every race and every faith can join in celebration across this magnificent mall, and why a man whose father less than sixty years ago might not have been served at a local restaurant can now stand before you to take a most sacred oath.So let us mark this day with remembrance, of who we are and how far we have traveled. In the year of America's birth, in the coldest of months, a small band of patriots huddled by dying campfires on the shores of an icy river. The capital was abandoned. The enemy was advancing. The snow was stained with blood. At a moment when the outcome of our revolution was most in doubt, the father of our nation ordered these words be read to the people:"Let it be told to the future world...that in the depth of winter, when nothing but hope and virtue could survive ... that the city and the country, alarmed at one common danger, came forth to meet [it]."America.
In the face of our common dangers, in this winter of our hardship, let us remember these timeless words. With hope and virtue, let us brave once more the icy currents, and endure what storms may come. Let it be said by our children's children that when we were tested we refused to let this journey end, that we did not turn back nor did we falter; and with eyes fixed on the horizon and God's grace upon us, we carried forth that great gift of freedom and delivered it safely to future generations.Thank you.
God bless you. And God bless the United States of America.